Budaya, Struktur dan Agensi

Budaya, Struktur dan Agensi
Budaya, Struktur dan Agensi

Budaya, Struktur dan Agensi

Budaya, Struktur dan Agensi
Budaya, Struktur dan Agensi

Introduksi  

Hubungan sistem makna dan tindakan manusia telah lama menjadi tema penting di dalam teori kebudayaan. Hampir semua teori kebudayaan menentukan posisinya yang tertentu dalam kaitan isu ini. Teori interaksionisme simbolis dan etnometodologis misalnya, memusatkan prioritasnya pada aktor. Teori neo-Marxisme, fungsionalisme Parson, dan strukturalisme, menitik-beratkan pada kekuasaan sistem makna untuk mengendalikan manusia (agen). Kemudian teori kebudayaan berkembang untuk menjembatani kedudukan oposisi yang terbangun di dalam teori-teori kebudayaan sebelumnya. Salah satu pemikir yang mencoba mengatasi oposisi yang berkembang tersebut ialah Pierre Bourdieu, yang membahas debat antara perspektif ‘mikro’ dan ‘makro’.

Makalah ini akan membahas secara sekilas pandangan Bourdieu mengenai jalan keluar dari kesulitan oposisi yang berkembang antara perspektif mikro dan makro, struktur dan agen, dan lainnya. Pandangan Bourdieu sendiri amat penting dalam menjembatani antara struktur sosial dan tindakan pelaku.

 

Mengenal Pierre Bourdieu

Pierre Bourdieu (1930-2002) lahir di Denguin (Pyrenees-Atlantiques) di sebelah selatan Prancis pada 1 Agustus 1930, anak dari Felix Bourdieu. Bourdieu menyelesaikan sekolahnya di Lycee Louis-le-Grand di Paris, sebelum memasuki pendidikan tingginya di Ecole Normale Superieure (ENS) juga di Paris. Di sini Bourdieu belajar filsafat dengan bimbingan Louis Althusser. Karir akademisnya dimulai ketika dia memperoleh aggregation dari ENS, yaitu dengan menjadi guru di Moulins selama setahun, yang kemudian dia menjalani wajib militer. Setelah menjalani wamilnya dia tinggal di Aljajair menjadi pengajar. Di negeri inilah dia melakukan riset etnografis mengenai masyarakat Kabyle dan Berber yang meningkatkan reputasi antropologisnya. Buku pertamanya ialah Sociologie de L’Algerie yang segera sukses di Prancis dan diterbitkan pula di Amerika tahun 1962. Tahun 1960-64 dia kembali ke Paris mengajar di Universitas Paris dan Universitas Lille. Dia menjabat direktur studi di Ecole Pratique des Hautes Etudes, dan juga menjadi ketua studi Sociologi di College de France. Bourdieu banyak dipengaruhi oleh Max Weber, dengan gagasan dominasi dan sistem simbolik di dalam kehidupan sosial serta gagasan mengenai tatanan sosial (dia eksplorasi di dalam teori medan).

Dari Marx, dia menerima gagasan mengenai masyarakat sebagai tatanan hubungan sosial, relasi objektif yang bebas dari kehendak dan kesadaran individual (berakar pada moda dan kondisi produksi ekonomi) serta secara dialektis mengembangkan teori sosial dari tindakan sosial. Dari Durkheim, Marcel Mauss, dan Levi-Strauss, Bourdieu menerima gagasan tentang interpretasi strukturalis kecenderungan struktur sosial berdasarkan analisa struktur simbolik dan bentuk-bentuk klasifikasi. Bourdieu juga menerima gagasan Merleau-Ponty dan Husserl dalam merumuskan masalah tubuh, tindakan, dan disposisi praktis (termanifestasi dalam teori ‘habitus’nya). Dari Wittgenstein, Bourdieu memperoleh pencerahan mengenai filsafat bahasa/analitik.

 

Pandangan Bourdieu

Pandangan Bourdieu berusaha mensintesis tingkatan analisa mikro dan makro. Dia menaruh perhatian baik pada pengalaman subjektif maupun struktur objektif. Dia bergerak di atas pandangan sosiologi kritis Marx dan Weber, namun menolak visi orthodox Marxian mengenai kelas-kelas masyarakat. Bourdieu mengembangkan baik model teoritis yang abstrak dan cakupan menengah studi empiris. Studi empirisnya meliputi lapangan seperti pendidikan, budaya pop, seni, antropologi, sosiologi. Dengan studinya itu, Bourdieu membangun sejumlah konsep seperti konsep medan, habitus, dan modal budaya, yang secara luas merasuki berbagai wilayah riset sezamannya. Pandangan Bourdieu banyak dipengaruhi oleh berbagai teori misalnya fungsionalisme, strukturalisme, dan eksistensialisme.

 

Sosiologi Refleksif

Mengenai sosiologi refleksif, dibahas oleh Bourdieu di dalam bukunya yang berjudul Outline of a Theory of Practice. Di bagian awal bukunya, dia mengkritisi pemahaman strukturalis mengenai masyarakat, seperti dikemukakan oleh Levi-Strauss. Kalangan strukturalis memandang struktur sebagai yang objektif, termasuk dalam bahasa, ekonomi, dan lainnya. Dalam konteks itu, para ilmuwan bertindak sebagai ‘pengamat objektif’, tanpa kepentingan, otonom, dst. Studi antropologi misalnya bisa terjebak pada asumsi objektif bahwa ‘pengalaman asali’ dijumbuhkan dengan ‘representasi akan pengalaman asali’. Bourdieu menciptakan dua model pengetahuan yaitu pengetahuan praktis dan pengetahuan teoritis. Seluruh kehidupan sehari-hari kita banyak diselenggarakan oleh pengetahuan praktis. Dalam studi, riset, akademis, ataupun filosofis kita banyak mempergunakan pengetahuan teoritis. Menurut Bourdieu, perspektif sebagai pengamat objektif adalah masuk akal untuk membentuk peta asbtrak sistem simbol dan mengembangkan gagasan mengenai aturan-aturan sosial. Namun dengan pengertian itu, kita bisa terperangkap dalam pemikiran bahwa aturan-aturan sosial didorong oleh aturan-aturan dan kodenya itu sendiri.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/jam-tangan-pengukur-tensi