Etika Buddha sebagai Alternatif Etika Praktis

Etika Buddha sebagai Alternatif Etika Praktis
Etika Buddha sebagai Alternatif Etika Praktis

Etika Buddha sebagai Alternatif Etika Praktis

Etika Buddha sebagai Alternatif Etika Praktis
Etika Buddha sebagai Alternatif Etika Praktis

Dengan ciri khas-nya tadi, sedikit problematis

untuk dapat menempatkan etika Buddha ke dalam sistematika etika alam pikir barat. Untuk itu, Barnhart mengajukan argumennya untuk menempatkan Buddhisme sebagai partikularisme etis yang berorientasi kepada kepedulian (care-oriented ethical particularism).[19] Hal ini menurutnya didasarkan oleh dua pertimbangan yaitu, pertama bahwa pertanyaan etis yang terpenting di dalam Buddhisme bukanlah “apa yang seharusnya saya lakukan (secara spesifik)?” alih-alih lebih ke “apa yang seharusnya saya perhatikan?”. Pertanyaan ini membawa kepada konsekuensi logis alasan kedua yaitu bahwa pertimbangan etis dalam ajaran Buddha tidak berdasarkan kepada aturan-aturan kaku melainkan melalui penalaran moral yang bersifat partikular dengen pendekatan kasus per kasus.

 

Argumentasi dari Barnhart

tersebut cukup dapat menjelaskan pelbagai konsep inti ajaran Buddhisme yang bersifat paradoksal. Misalnya hubungan antara dharma yang merupakan hukum yang mengatur namun membawa kepada kebebasan (nirvana), penekanan kepada penderitaan (dukkha) sebagai sumber dari samsara dan bagaimana manusia harus menekan hasratnya justru untuk menemukan pencerahan, serta kebijaksanaan transendental (prajna). Pelbagai konsep inti dalam Buddhisme tidak bisa dipandang secara terisolir satu sama lain karena masing-masing saling terkait dan menjelaskan. Pandangan metafisika dan transendensi karenanya juga merupakan landasan pada sistem etika. Sistem etika sendiri tidak bersifat kaku namun lebih bersifat cair dan terbuka dengan penekanan kepada penalaran moral berdasarkan pandangan yang benar. Panduan yang diberikan dalam ajaran Buddha dengan demikian bersifat soteriologis dimana aspek inetelegensia melalui prajna serta welas asih dalam karuna selalu datang bersamaan dan dilakukan lewat perbuatan yang benar untuk mencapai kesempurnaan (paramitha).

 

Dalam konteks kekinian, ketika dihadapkan

dengan fenomena banyaknya kekerasan dan ancaman perpecahan di dalam masyarakat yang plural, etika Buddha sampai pada tataran tertentu menurut hemat penulis dapat digunakan sebagai alternatif atau setidaknya rujukan dalam etika praktis dalam kehidupan bersama di Indonesia. Hal ini paling tidak disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama etika Buddha menekankan kepada pentingnya penalaran moral sebagai dasar dari pertimbangan etis. Hal ini dengan demikian menghindarkan kecenderungan penilaian dogmatis yang rentan berujung kepada pembenaran tindakan kekerasan atas pandangan yang berbeda. Kedua, penekanan kepada penerimaan atas hukum alam atau kebenaran (dharma) yang pada hakikatnya berlaku secara umum namun menampak melalui perubahan yang berkelanjutan dan saling terkait satu sama lain bisa jadi dapat digunakan sebagai titik pijak untuk membahas konsep harmoni atau keselarasan di atas pelbagai perbedaan yang menjadi hakikat dari kehidupan berbangsa di Indonesia. Ketiga, konsep keselarasan berdasarkan dharma ini sendiri sangat dekat dengan konsep etika keselarasan yang dianut dalam konteks lokal di Indonesia misalnya pada etika jawa. Keempat, penekanan kepada nilai utama di dalam etika Buddha yaitu hidup, kebijaksanaan, dan persahabatan (sebagai hasil dari welas asih) merupakan nilai yang sangat relevan untuk memulai diskursus atas pembentukan etika bersama yang merangkul perbedaan dan menghindari kekerasan.

Orientasi etika Buddha kepada kepedulian

atas nilai-nilai kemanusiaan yang berlaku secara universal di satu sisi, namun dengan pendekatan etis yang bersifat partikular dalam artian tidak menerapkan penilaian yang bersifat kaku dan memandang segala hal secara satu kesatuan di sisi lain dapat dijadikan sebagai suatu suatu visi atau cara pandang untuk membangun sistem etika praktis humanis dan mengakui setiap partikularitas dari yang ada.


Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/makna-proklamasi-bagi-indonesia