Guru Bagus vs Guru Hebat

Table of Contents

Guru Bagus vs Guru Hebat

Suatu hari, dua orang guru menghendaki sebabkan seorang anak mampu naik sepeda.

Guru pertama

Guru ini mengajarkan lebih-lebih dahulu komponen-komponen sepeda. Dia menyebutkan tersedia ban dalam dan ban luar, tersedia gir, tersedia rantai, rangka besi, stir, dan seterusnya. Guru berikut juga menyebutkan bahan-bahan pembuat rangka. Pasti tersedia perbedaan antara rangka besi dan rangka aluminium.

Selanjutnya, materi mengenai fisik. Saat naik sepeda, kondisi fisik wajib prima. Tumpuan kaki sementara mengayuh sepeda wajib seimbang. Pandangan mata juga wajib fokus. Tidak cuma itu, guru berikut juga mengajarkan bahwa pengaturan nafas adalah anggota terutama dalam bersepeda.

Begitu seluruh materi sudah selesai, maka bakal tersedia ujian. Jika kamu beroleh nilai A, maka kamu mampu naik sepeda.

Guru kedua.

Dia segera membawa sepeda dan mengajak anak berikut ke lapangan. Dia minta anak berikut naik dan segera mengayuh sepeda. Pertama-tama guru berikut memberi tambahan pemberian pegangan.

Proses belajarnya, anak berikut jatuh, bangun, jatuh lagi, berdarah sedikit, bangun lagi, dan begitu terus sampai lebih dari satu hari. Hanya tersedia stimulus kecil, teriakan-teriakan penyemangat, dan latihan terus menerus.

Hasilnya, mampu naik sepeda.

__

Tapi, bagaimana dengan pelajaran yang tidak mampu dipraktikkan secara langsung? Misalnya, studi tata surya. Memang ada, namun tidak banyak.

Mengajar layaknya gaya guru pertama tidak masalah. Guru berikut selalu berjasa dalam memberi tambahan pengetahuan. Dia cuma memperlebar jarak antara pengetahuan dengan pengamalannya. Yang wajib dicolek adalah guru yang selalu mempraktikkan langkah guru pertama terhadap seluruh materi. Ya, colek saja bahwa tersedia langkah yang lebih efektif.

Jangan didiamkan! Kopi saja kalau didiamkan, pasti bakal dingin dan hilang cita rasanya.

“Those who know, do. Those that understand, teach.” Aristotle

Sumber : https://www.lele.co.id/panduan-lengkap-7-cara-menanam-hidroponik-sederhana-di-pekarangan/