Organisasi-Organisasi Bentukan Jepang

Organisasi-Organisasi Bentukan Jepang
Organisasi-Organisasi Bentukan Jepang

Organisasi-Organisasi Bentukan Jepang

Organisasi-Organisasi Bentukan Jepang
Organisasi-Organisasi Bentukan Jepang

A. Gerakan Tiga A

Mula-mula Jepang mendirikan perkumpulan bagi rakyat. Organisasi pertama dibentuk ialah Gerakan Tiga A. Semboyan Gerakan Tiga A adalah:
  1. 1) Jepang Pemimpin Asia
  2. 2) Jepang Pelindung Asa
  3. 3) Jepang Cahaya Asia
Gerakan Tiga A didirikan pada bulan Maret 1942 sebagai bagian dari propaganda (sedenbu) Jepang. Pelopor Gerakan Tiga A ialah Shimizu Hitoshi. Ketua Gerakan Tiga A dipercayakan kepada Mr. Syamsudin yang dibantu oleh beberapa orang bekas tokoh Parindra (Partai Indonesia Raya), seperti K. Sutan pamuntjak dan Muhammad Saleh. Gerakan Tiga A bukanlah gerakan kebangsaan Indonesia. Gerakan ini lahir semata-mata untuk menarik simpati rakyat Indonesia agar mau membantu Jepang. Gerakan ini kurang mendapat perhatian karena bukan gerakan Kebangsaan Indonesia. Oleh karena kurang berhasil menggerakan rakyat, Gerakan ini dibubarkan.

 

 

B. Organisasi Islam

 

  1) Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI)
Organisasi ini sebenaryna bukan murni bentukan Jepang. Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) didirikan oleh K. H Mas Mansyur pada tahun 1937 di Surabaya. Pada bulan Mei 1942, MIAI dihidupkan kembali oleh Pemerintah Jepang. Usaha ini mendapat simpati dari umat islam Indonesia. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/konsep-dan-radiasi-gelombang-elektromagnetik/)

 

 

  2) Majelis syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI)
Pada bulan Oktober 1943, MIAI secara resmi dibubarkan. Sebagai gantinya dibentuklah organisasi Islam baru, yaitu Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI). Organisasi ini secara resmi didirikan pada tanggal 22 November 1943. Ketuanya, adalah K. H Hasjim Asj’ari, dibantu oleh K. H. Mas Mansyur dan K. H. Farid Ma’ruf. pemerintah Jepang memberi kebebasan kepada pemuda-pemuda Islam untuk membentuk laskar-laskar muslim Indonesia. Mereka diberikan latihan militer oleh Jepang. Laskar Islam itu antara lain laskar Hisbullah, laskar Fisabilillah, dan lain-lain.

 

 

C. Poesat Tenaga Rakjat (POETRA)

Pada 1 Maret 1943, dibentuklah sebuah organisasi baru yang diberi nama Poesat Tenaga Rakjat (POETRA). Organisasi ini dipimpin oleh tokoh-tokoh pergerakan Kebagsaan Indonesia. Para pemimpin Poesat Tenaga Rakjat ialah Ir. Soekarno (Bung Karno), Drs. Moh. Hatta, Ki hajar Dewantara, dan K. H. Mas Mansyur. Di dalam Poesat Tenaga Rakjat, bangsa Indonesia dan pemerintah Jepang sama-sama mempunyai kepentingan. Bagi Jepang, pembentukan Poetra bertujuan untuk memusatkan seluruh kekuatan rakyat Indonesia dalam rangka membantu usaha Jepang melawan sekutu. Sebaliknya, Bung Karno, Bung Hatta, serta tokoh Indonesia lainnya berusaha memanfaatkan Poetra sebagai tempat untuk mengobarkan semangat Kemerdekaan Indonesia. Tentara Jepang mulai curiga terhadap Poetra karena kegiatannya lebih banyak usaha persiapan kemerdekaan Indonesia. Akhirnya, pemerintah Jepang merasa tidak puas terhadap Poetra. Empat orang tokoh Poetra yaitu, Bung Karno, Bung Hatta, Ki hajar Dewantara, K. H. Mas Mansyur, dianggap sebagai lambang gerakan nasional menuju Indonesia merdeka oleh Jepang, sehingga tahun 1944, didirikanlah sebuah organisasi baru bernama Jawa Hokokai atau kebaktian Jawa. Organisasi ini dipimpin langsung oleh orang Jepang. Salah satu tugas Jawa Hokokai adalah mengerahkan tenaga rakyat indonesia sebagai kerja paksaa (Romusha). Para Romusha ini dipaksa membuat kubu-kubu pertahanan, lubang perlindungan, lapangan udara, dan lain-lain untuk kepentingan perang Jepang.

 

 

D. Heiho (pembantu prajurit)

Angkatan Perang Sekutu dibawah pimpinan Amerika Serikat, tetap melakukan serangan terhadap Jepang. Untuk menahan serta menghambat kemajuan angkatan perang sekutu, tentara Jepang sangat membutuhkan bantuan dan dukungan rakyat Indonesia. Dalam pidatonya, Perdana Menteri Jepang, Hideki Tojo, mengumumkan bahwa rakyat Indonesia diberi kesempatan ikut serta dalam kegiatan politik dan pemerintahan. Karena keaadan perang semakin gawat, tentara Jepang membuka kesempatan bagi pemuda-pemuda Indonesia untuk menjadi pembantu prajurit Jepang.Tentara Jepang lalu membentuk Heho (pembantu prajurit). Untuk angkatan Darat disebut Rikugun Heiho, Sedangkan untuk angkatan laut disebut Kaigun Heiho. Para calon prajurit Heiho diberi pelatihan dasar kemiliteran. Tempat pelatihan militer tersebut adalah di Tanggerang, Banten. Setelah memperoleh pelatihan militer, perajurit Heiho dikirim ke medan pertempuran, seperti ke Morotai (Maluku), Irian, dan lain-lain. Bagi pejuang Indonesia, hasil pelatihan militer tersebut sangat berguna. Dari pelatihan ini pemuda-pemuda Indonesia memperoleh pengetahuan baris-berbaris, menggunakan senjata, siasat perang, dan sebagainya. Jepang juda membentuk keibodan (barisan pembantu polisi), seinendan (barisan pemuda), yoshi seinendan (barisan pemuda), Fujinkai (perhimpunan wanita). Mereka semua diberi pelatihan militer ringan.

 

E. PETA (Pembela tanah air)

Serangan tentara sekutu terhadap Jepang semakin gencar. Tentara Jepang di Indonesia merasa khawatir apabila tentara sekutu menyerang Indonesia. Oleh karena itu, semakin banyak pemuda Indonesia dilatih kemiliteran oleh Jepang. Tujuannya adalah untuk membantu Jepang dalam melawan sekutu. Pada tanggal 7 September 1943, Gatot Mangkupraja, seorang tokoh pergerakan nasional, mengajukan usul kepada pemerintah Jepang agar dibentuk sebuah tenntaraa sukarela pembela tanah air yang seluruh anggotannya terdiri atas orang-orang Indonesia. Usulan iini mendapat sambutan hangat dari seluruh rakyat Indonesisa. Bung Karno ddan Bung Hatta sangat mendukung cita-cita itu. Indonesia yang akan kelak merdeka sangat membutuhkan tenaga yang mahir dan terampil di bidang kemiliteran. Indonesia yang akan kelak merdeka sangat membutuhkan tentara yang kuat sebagai tulang punggung negara. Pada tanggal 3 Oktober 1943, Tentara Jepang mengumumkan pembentukan tentara Pembela Tanah Air (PETA). para pemuda Indonesia pun segera mendaftarkan diri sebagai anggota PETA. Para pemuda tersebut mendapat pelatihan militer yang dipusatkan di Bogor, Jawa Barat. Berbeda dengan Heiho yang dikirim ke daerah-daerah pertempuran, tentara PETA hanya diperuntukkan bagi pertahanan daerah masin-masing. Di dalam PETA ada lima jenis jabatan, yaitu daidancho (komandan batalion), Cudancho (komandan kompi), Shodanco (komandan peleton), Budancho (komandan regu), Giyuhei (prajurit sukarela). Tujuan pembentukan tentara PETA ialah untuk mempertahankan Indonesia jika ada serangan sekutu.