pengusaha baru lewat pendekatan lifestyle

pengusaha baru lewat pendekatan lifestyle
pengusaha baru lewat pendekatan lifestyle

pengusaha baru lewat pendekatan lifestyle

pengusaha baru lewat pendekatan lifestyle

Siapa bilang melihat dunia wirausaha tidak dapat dilihat dari sisi lifestyle

atau gaya hidup. Ketua BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Himpi) Sumatera Utara Firsal Ferial Mutyara sudah membuktikannya.

Membangun dunia usaha tak selalu harus dilihat dari sudut pandang perekonomian atau ingin membuka lapangan pekerjaan saja. Ya, gaya hidup pengusaha yang bebas tanpa terikat dengan jam kerja membuat mereka bisa duduk santai atau nongkrong kapan saja sesuka hati. Tempat mereka kongkow pun kebanyakan pada tempattempat elit yang membuat orang iri ingin mengikutinya. Belum lagi jika bicara fasilitas yang digunakan.

 

Pada umumnya pengusaha mengambil kelas premium

atau vip pada setiap kesempatan. Sudah tentunya disertai penampilan yang selalu mengikuti tren busana merek terkenal. Hal-hal yang berkaitan dengan gaya hidup seperti itu menjadi pendekatan utama yang dilakukan Firsal dalam menumbuhkan pengusaha muda di daerah ini khususnya Medan.

“Biasanya orang akan melihat penampilan terlebih dahulu, kemudian kehidupan sehari- hari sehingga terdorong untuk berprilaku sama. Hal-hal seperti itu yang saya sampaikan ke mahasiswa jika ingin menjadi pengusaha muda,” ujar pria yang selalu memperhatikan penampilannya itu.

Dengan begitu pendekatan seperti itu, menurut lulusan Bachelor Of Business Marketing dari Central Queens land University Australia ini akan lebih mudah menumbuhkan keinginan menjadi pengusaha muda. Banyak orang menilai hidup seorang pengusaha sangat enak. Padahal, kata Firsal, sebelum menjadi pengusaha, banyak hal yang harus dilalui. Kesulitan itu seringkali tidak dipertimbangkan oleh calon pengusaha. Sehingga kerap muncul keluhan atau menyerah sebelum berjuang.

 

Seharusnya,jika ingin menjadi pengusaha

setiap upaya yang dilakukan hingga akhirnya menjadi sukses atau istilahnya menikmati hasil jerih payahnya itu, juga harus diikuti. “Jika ingin mengikuti gaya hidup pengusaha, maka mulailah berusaha layaknya seorang pengusaha,” tuturnya.

Sebagai langkah awal, Hipmi Sumut yang dipimpinnya mulai 2011 – 2014 akan membantu langkah awal dengan membangun 215 kios pada lahan seluas 7.000 meter di Medan.

Nantinya lahan itu akan diberi nama Kampung Hipmi. Kios itu nantinya diberikan kepada mahasiswa dengan sistem bergulir selama setahun sebagai upaya pembinaan dari organisasi ini.

“Hipmi membantu mahasiswa mengasah kemampuan

wirausahanya selama setahun. Seluruhnya akan diajarkan bagaimana mengembangkan usaha hingga mengelola keuangan karena kios itu tidak diberikan gratis. Tujuannya agar mahasiswa tahu bagaimana berbisnis yang sebenarnya. Diharapkan seluruhnya survive sehingga bisa tahan menghadapi persaingan sebenarnya nanti,” ujar pria kelahiran Medan 31 tahun lalu.

Meskipun dia mengaku tidak memiliki angka tertentu untuk menambah jumlah pengusaha di daerah ini, Hipmi Sumut yang beranggotan 2.000 orang pengusaha akan berupaya terus meningkatkannya. Menurutnya, peningkatan jumlah pengusaha perlu dukungan dari semua pihak, tidak hanya pemerintah.

Dalam hal ini khususnya perbankan sebagai institusi yang bisa membantu permodalan. Pria berparas tampan ini menilai, perbankan belum sepenuhnya membantu yang dapat dilihat dari besaran bunga kredit

Sumber : https://merekbagus.co.id/