Rapor Anak Tangga”; Manajemen Kelas Akhir Tahun

Rapor Anak Tangga”; Manajemen Kelas Akhir Tahun

“Berapa anak tangga yang mampu kalian daki th. ini?”

Sekarang udah bulan April. Akhir th. pelajaran tinggal satu bulan. Biasanya, semester dua adalah semester bersama kepadatan aktivitas yang tinggi. Sudah biasa berlangsung saling senggol antara aktivitas bersama sistem belajar. Yang tidak boleh kendor tetapi boleh lecet sedikit adalah: S-E-M-A-N-G-A-T.

Sekolah mengakhiri th. pelajaran bersama banyak variasi cara. Kalau anda mengakhiri th. hanya bersama menambahkan rapor kepada siswa dan orangtua murid, seperti biasa dan tanpa yang lain, artinya anda melaksanakan hal yang serupa seperti puluhan th. yang lalu. Pertanyaannya, bukankah sebenarnya itu tuntutannya? Betul. Memang tidak tidak benar melaksanakan hal tersebut, tetapi bukankah boleh menambahkan sesuatu yang lebih baik?

Di akhir tahun, ini tidak benar satu yang menjadi aktivitasku. Yaitu, rapor anak tangga, yakni rapor kebolehan berasal dari murid untuk murid. Rapor ini diisi oleh murid dan dipersembahkan untuk murid juga. Rapor ini hanya berwujud satu atau dua lembar.

Insya Allah, rapor ini terlalu enteng dan tidak meningkatkan beban kita. Paling-paling hanya butuh saat lima belas menit untuk mengakibatkan lembaran berikut dan hanya satu kali didalam satu tahun. Efeknya, lembaran ini ternyata terlalu bermanfaat, yakni tahu apakah seorang anak udah naik ke anak tangga kebolehan yang lebih tinggi secara independent atau dia naik gara-gara standing saja.

Bagi guru yang dambakan mengajarkan rasa syukur dan arti sebuah progress, tehnik ini sungguh terlalu penting. Namun, bagi guru yang udah merasa tugasnya selama ini udah banyak dan tidak senang untuk capek-capek menambahkan sesuatu yang lebih kepada anak, silakan berhenti membaca dan berubah ke bacaan lain. Kalau tidak tersedia pilihan, ngopi sachetan juga boleh…

Lembar “Rapor Anak tangga” dibuat di awal tahun. Isinya adalah sederetan materi, baik akademis maupun non-akademis yang mereka pelajari selama setahun ini. Lembar ini serupa apa yang kami sebut bersama “pre-test” dan “post-test”. Sudah miliki gambaran, kan?

Di awal tahun, tentu saja, anak-anak lebih banyak mengisi bersama isyarat silang. Catatan awal th. ini perlu kami simpan rapi, selanjutnya kami sandingkan bersama lembar yang mereka mengisi di akhir th. pelajaran. Dua lembar bersama pertanyaan sama, tetapi jawaban yang berlainan bakal menyadarkan murid perihal pertumbuhan dirinya.

Biasanya, aku bertanya, “Berapa anak tangga yang mampu kalian daki th. ini?”

Uang di ATM saja senantiasa kami pantau saldonya. Lebih banyak tanjakan atau justru turunan yang mendominasi. Anak, tentu saja, lebih berharga ketimbang uang. Pandangan seperti ini saja, masih tersedia yang membantah. Salah seorang kawan menyanggah bahwa tersedia yang lebih penting berasal dari anak, yakni sistem membuatnya.

Sebelum kami bicarakan manfaat, mari kami menyaksikan isinya lebih detail. Bagian akademis memuat poin-poin materi pokok setiap bidang studi. Misalnya, aku mampu membaca jam, aku tahu perubahan energi, aku mampu mengakibatkan iklan sederhana, dst. Bagian non-akademis memuat target-target sikap yang kami didikkan ke murid secara tertentu th. ini. Untuk bagian-bagian lain, silakan dimodifikasi dan ditambahkan.

Beberapa manfaat yang mampu kami peroleh:

Pertama, bagi guru. Ketika seorang guru memastikan untuk memberi rapor kebolehan ini, maka setidaknya tersedia tanggungjawab menambahkan progress kepada anak, sekecil apa pun perkembangannya. Dengan tanggungjawab ini, maka perjalanan belajar seperti di Taman Safari tidak terjadi. Di taman safari, kami hanya lewat, melihat, dan mengenal berasal dari jauh. Dalam belajar, kami mengupayakan supaya anak tidak hanya mendengar nama materi dan sesudah itu melewatinya begitu saja.

Proses belajar adalah sistem menyentuh, mengalami, dan menggerakkan seluruh indra tubuh kita.

Kedua, bagi murid. Lembar rapor kebolehan ini bakal menjadi papan skor bagi anak-anak. Mereka yang belajar dan bermain, mereka pulalah yang menentukan hasilnya. Tentu saja, hasil itu mereka peroleh bersama bimbingan kami sebagai guru di sekolah, belajar di rumah, dan bimbingan orangtua mereka.

Tugas seorang anak bukannya hanya belajar, bermain, dan berteman? Betul. Mengetahui secara tahu apa yang dihasilkan berasal dari belajar, bermain, dan berkenalan adalah feedback yang terlalu positif dan bermanfaat.

Poin pentingnya adalah bahwa setiap anak bakal menyaksikan progress mereka sendiri. Mereka bakal tahu naiknya level diri mereka. Mereka bakal tahu bahwa mereka udah bergerak berasal dari “zaman kegelapan” menuju “zaman pencerahan”. Hehe. Mereka bakal tahu perihal pertumbuhan dirinya, kebolehan dirinya, juga bisnis yang udah dilakukannya.

Selamat Mencoba. Silakan dimodifikasi dan dikembangkan!

 

Baca Juga  :