Apel Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya

Apel Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
Apel Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya

Apel Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya

Apel Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
Apel Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya

“Seperti pohon Apel selalu berbuahkan Apel, kebiasaan baik Anda tidak
akan pernah menghasilkan sesuatu yang buruk.”

Anton dan Nia adalah sepasang suami isteri. Mereka berencana untuk
menikmati liburan berdua ke Bali, karena kebetulan Anton ada tugas
dari kantornya. Mumpung ke sana, Anton bermaksud memperpanjang masa
tinggalnya sekaligus liburan bersama isterinya. Puteri mereka yang
sudah menginjak usia remaja tidak diajak serta karena waktu
perjalanan mereka bukanlah hari libur sekolah.

Pagi hari itu, beberapa saat setelah puteri mereka berangkat ke
sekolah dengan kendaraan umum, mereka juga segera berangkat dengan
menggunakan taksi. Nia marasa senang karena bisa ikut serta suami
untuk refreshing. Ia sudah membayangkan suasana santai, lepas dari
kesibukan sehari-hari, paling tidak untuk beberapa hari nanti.
Persiapan sudah ia lakukan sebaik-baiknya. Mulai dari baju renang
sampai kacamata hitam. Lalu lintas tidak begitu padat pagi itu,
sehingga taksi yang mereka tumpangi bisa berjalan dengan lancar.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba laju taksi melambat karena padat.
Rupanya di sisi kiri jalan, terjadi kecelakaan. Sebuah mobil Angkutan
Perkotaan terguling dengan posisi terbaring. Kerumunan orang yang
bermaksud menolong para penumpang yang masih terjebak di dalam mobil
membuat lalu lintas terhenti. Termasuk taksi Anton dan Nia.

Tentu saja Nia menjadi senewen, “Waduh, bisa ketinggalan pesawat
kita!” katanya. Anton diam saja, karena ia justru tergerak untuk ikut
turun dan membantu orang banyak itu mengeluarkan penumpang dari dalam
Angkutan Kota yang malang itu. “Sebentar ya Ma!” katanya sambil
membuka pintu taksi dan beranjak keluar. “Hey, mau kemana?! Sudah
banyak yang menolong, nggak usah ikut-ikutan! ” kata Nia berusaha
mencegah Anton turun. Namun Anton tetap bergegas, tanpa menghiraukan
teriakan isterinya. “Ton, kita ketinggalan pesawat nanti!” teriak Nia
kembali, namun percuma karena Anton segera hilang di tengah
kerumunan.

Nia tentu saja kesal. Anton memang tipe orang yang ringan tangan.
Kalau melihat orang lain dalam keadaan kesulitan pasti dia akan
berusaha menolong, bahkan dalam keadaan yang sulit sekalipun,
termasuk saat itu, ketika mereka sebenarnya harus mengejar pesawat
mereka ke Bali.

Tiba-tiba dari kerumunan itu muncul Anton sambil memapah dua orang
gadis yang kepalanya berlumuran darah. Astaga! Salah satu dari dua
gadis itu ia kenal betul! Ia adalah Dinda, puterinya sendiri yang
tadi berangkat lebih dulu menggunakan kendaraan umum!

“Ya Tuhan!” teriaknya sambil meloncat keluar taksi mendapatkan Anton,
Dinda dan teman sekolah yang rupanya berangkat bersama-sama pagi itu.
Mereka segera melarikannya ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan
perawatan yang memadai. Ada cedera kepala Dinda yang harus ditangani
sesegera mungkin. “Untung anak ini mendapatkan pertolongan pertama
yang cepat dan tepat, ” kata dokter yang menangani Dinda, “Kalau
tidak bisa fatal.” katanya.

Anton dan Nia memutuskan untuk membatalkan perjalanan mereka ke Bali.
Meskipun perjalanan ke Bali sungguh-sungguh Nia inginkan, tetapi ia
bersyukur bahwa kebiasaan baik Anton menolong dan membantu orang
lain, ternyata juga telah menyelamatkan puterinya sendiri dari cedera
yang serius. Nia bersyukur kepada Tuhan karenanya, dan
merasa malu dengan dirinya sendiri karena sering ia begitu egois.

Sumber : https://icanhasmotivation.com/