Nasehatku Untuk Ahlus Sunnah

Nasehatku Untuk Ahlus Sunnah
Nasehatku Untuk Ahlus Sunnah

Table of Contents

Nasehatku Untuk Ahlus Sunnah

Nasehatku Untuk Ahlus Sunnah
Nasehatku Untuk Ahlus Sunnah

Al Imam Al Bukhari rahimahullah telah meriwayatkan dari Jarir bin Abdillah, bahwa dia menyatakan : “Aku telah membai’at Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam untuk kami mendengar dam ta’at (kepada pemerintah Muslimin –pent). Kemudian Beliau menuntun aku untuk berkata lagi : Dalam apa yang aku mampu menjalankannya dan memberi nasehat kepada setiap Muslim”. (Syarah Shahih Bukhari/Fat-hul Bari jilid 13, hal. 193).

Juga Imam Muslim rahimahullah telah meriwayatkan (dalah Shahihnya juz 1 hal. 74) dari Tamim Ad Dari : Bahwa Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

“Agama itu adalah nasehat”. Kamipun menanyakan kepada beliau : Untuk siapa ? Beliau menjawab : “Untuk Allah dan untuk KitabNya dan untuk RasulNya, dan untuk para pimpinan kaum Muslimin serta untuk segenap kaum Muslimin”.

Maka nasehatku untuk Ahlis Sunnah ialah :

Hendaknya mereka menjauhi segenap sebab-sebab perpecahan dan perselisihan. Karena aqidah Ahlus Sunnah itu adalah satu, dan arah pandangan mereka satu. Maka tidak ada alasan padanya untuk berpecah dan berselisih, kecuali karena kejahilan, kedengkian dan ajakan syaithan. Disebutkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi bersabda :

“Sesungguhnya syaithan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang menunaikan kewajiban shalat di jazirah Arabia , akan tetapi syaithan tidak putus asa untuk membikin perpecahan di kalangan mereka”.

Berselisih itu adalah kejelekan, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu ketika Utsman radhiyallahu anhu shalat di Mina mengimami manusia dengan empat raka’at, maka Ibnu Mas’ud menyatakan : Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kemudian beliau menyatakan : “Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam sebanyak dua rakaat, dan bersama Abi Bakar sebanyak dua rakaat, dan bersama Umar juga sebanyak dua rakaat (yakni mengqashar shalat-shalat yang empat rakaat –pent), oleh karena itu wahai alangkah bagusnya bila aku menjalankan dua rakaat yang diterima oleh Allah”. Maka ada yang menanyakan kepadanya : “Tidakkah sebaiknya engkau shalat dua rakaat saja ?”. (Padahal Khalifah Utsman bin Affan mengimami para jama’ah haji untuk shalat empat rakaat –pent). Maka Ibnu Mas’ud menjawab : “Berselisih itu adalah kejelekan”. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari dengan ma’na seperti ini.

Imam Muslim meriwayatkan pula dalam Shahihnya dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, beliau berkata : “Dulu Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam mengusap pundak-pundak kami dalam meratakan shaf-shaf kami untuk shalat berjama’ah, seraya beliau menyatakan :

“Janganlah shaf kalian berselisih (yakni tidak rata), karena bila shaf kalian keadaannya demikian, niscaya hati-hati diantara kalian akan berselisih pula. Hendaklah yang berdiri di shaf belakangku adalah orang yang berakal dan berilmu, kemudian yang dibelakangnya orang yang dibawah tingkatannya, kemudian yang dibelakangnya lagi berdiri orang-orang yang dibawah tingkatannya”.

Dan Al Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhuma, beliau berkata : Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

“Hendaknya kalian meratakan shaf kalian, atau Allah akan menjadikan kalian berselisih pada wajah-wajah kalian”.

Dan dari Al Barra’ bin Aazib radhiyallahu anhu, beliau menyatakan : Bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam biasa memeriksa ke sela-sela shaf dari arah ke arah yang lainnya. Beliau mengusap dada-dada kami dan pundak-pundak kami, dan beliau bersabda :

“Jangan kalian berselisih dalam shaf, niscaya hati-hati kalian juga akan berselisih”. Dan beliau selalu bersabda :

“Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya selalu bershalawat bagi orang-orang yang berdiri pada shaf pertama”. HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih, dan rawi-rawinya adalah orang-orang yang terdapat riwayatnya dalam kitab Shahih (yakni Al Bukhari dan Muslim), kecuali Abdurrahman bin ‘Ausajah dimana dia ini dianggap oleh An Nasa’ie sebagai orang terpercaya dalam periwayatan hadits.

Dan diriwayatkan dalam kitab Shahih Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas, beliau menyatakan : Ketika Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam menghadapi saat-saat terakhir menjelang kematian beliau, waktu itu di rumah beliau ada beberapa orang lelaki yang antar lain adalah Umar bin Al Khattab. Waktu itu Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam menyatakan : “Marilah aku akan tuliskan bagi kalian satu pesan yang dengannya kalian tidak akan sesat selama-lamanya sesudah ada pesan itu”. Mendengar permintaan Nabi itu, berkatalah Umar : Sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam sedang diliputi oleh penyakit beliau, dan di sisi kalian sudah ada Al Qur’an. Cukuplah bagi kita Kitab Allah. Maka berselisihlah orang-orang yang ada di rumah Nabi itu dan bertikai. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan : Dekatkanlah kepada Nabi alat tulis untuk dituliskan bagi kalian oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam satu pesan yang dengannya kalian tidak akan sesat selama-lamanya.

Sebagian lagi dari mereka mengatakan seperti yang dikatakan oleh Umar. Maka setelah ramainya omongan dan suara-suara berselisih di seputar Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, beliaupun menyatakan : “Pergilah kalian semua dari sisiku”.

Berkata Ubaidillah : Ibnu Abbas selalu menyatakan : “Sesungguhnya malapetaka yang paling besar dari berbagai malapetaka yang menimpa ummat ini, ialah kejadian yang menghalangi untuk ditulisnya pesan Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam tersebut. Yaitu berselisihnya mereka di sisi beliau dan meningginya suara perselisihan itu”.

Dan Al Imam Al Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari Ubadah bin As Shamith radhiyallahu anhu, beliau meriwayatkan : “Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam keluar dari rumah beliau untuk memberi tahu kita tentang malam lailatul qadar. Maka di saat itu ada dua orang Muslim yang saling bertikai sesama mereka. Maka Nabi sallallahu alaihi wa aalihi bersabda :

“Aku keluar dari rumahku untuk memberi tahu kalian tentang lailatul qadar, tetapi si fulan dengan si fulan bertikai, sehingga diangkat kembali ke langit berita itu, dan semoga itu akan menjadi kebaikan bagi kalian. Maka oleh karena itu carilah lailatul qadar itu pada tanggal 29, 27, dan 25 Ramadhan”.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari Abi Sa’ied Al Khudri, beliau menceritakan : Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam ber’i’tikaf pada sepuluh hari pertengahan bulan Ramadhan untuk mencari lailatul qadar sebelum adanya kejelasan bagi beliau. Maka ketika beliau menyelesaikan sepuluh hari tersebut, beliau memerintahkan untuk dibongkarnya kemah beliau. Kemudian setelah itu beliau mendapat kejelasan bahwa lailatul qadar itu terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka beliaupun memerintahkan untuk kembali mendirikan kemah di Masjid, kemudian beliau keluar dari kemahnya menemui kaum Muslimin, kemudian beliau bersabda :

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya telah diterangkan kepadaku kapan terjadinya lailatul qadar, dan aku keluar ini untuk memberi tau kalian tentangnya. Akan tetapi datang dua orang lelaki yang bertikai dan bersama keduanya ada syaithan, sehingga akupun lupa tentang hari yang diberitahukan kepadaku itu. Oleh karena itu carilah ia pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan”. Imam Muslim rahimahullah menyatakan : “Berkata Ibnu Khallad : kata ‘Yahtaqqani’ diganti dengan kata ‘Yakhtashimani’ (yakni berselisih)”.

Al Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abi Tsa’labah Al Khusyani radhiyallahu anhu, beliau berkata : Dulunya para Shahabat Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bila singgah di suatu lembah dan wadi (yakni tempat di seputar sumber air -pent) dalam perjalanan jauh mereka bersama Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, sebagaimana kata Umar bin Al Khattab,duduk terpencar di lembah tempat persinggahan itu.

Sumber : https://andyouandi.net/