Rintis Airlangga Network, Alumni Unair di Jakarta Berbagi Inspirasi dengan Guru Besar Termuda se-Indonesia

Rintis Airlangga Network, Alumni Unair di Jakarta Berbagi Inspirasi dengan Guru Besar Termuda se-Indonesia
Rintis Airlangga Network, Alumni Unair di Jakarta Berbagi Inspirasi dengan Guru Besar Termuda se-Indonesia

Rintis Airlangga Network, Alumni Unair di Jakarta Berbagi Inspirasi dengan Guru Besar Termuda se-Indonesia

Rintis Airlangga Network, Alumni Unair di Jakarta Berbagi Inspirasi dengan Guru Besar Termuda se-Indonesia
Rintis Airlangga Network, Alumni Unair di Jakarta Berbagi Inspirasi dengan Guru Besar Termuda se-Indonesia

Namanya Badri Munir Sukoco. Kalau mau lengkap ya ditambah ‘profesor’ di depan serta atribusi gelar S.E., MBA., Ph.D di belakang.

Dua tahun silam, 16 September 2017, pria kelahiran Lumajang 11 September 1978 ini

dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis ke-22. Kala itu, Badri menyampaikan orasi ilmiah tentang Revolusi Industri 4.0 dan dampaknya pada perguruan tinggi.

Guru Besar Unair PTN Berbadan Hukum (PTN-BH) ke-171 ini menggambarkan bahwa universitas harus bisa melalakukan reskilled pekerja dalam disertasi karya ilmiahnya yang berjudul ‘Orkestrasi Kapabilitas Dinamis untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa’.

“Reskilled pekerja agar tidak gagap dan menyiapkan angkatan kerja baru dengan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan saat ini maupun pekerjaan di masa depan yang saat ini belum eksis,” kata Prof Badri yang merupakan profesor ke-463 dimiliki Unair sejak berdiri.

Di kampus berjuluk ‘Garuda Mukti’ itu, Badri juga menjabat sebagai Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan Unair. Tak salah, ia menaruh perhatian besar pada pemeringkatan kampus tercinta di kancah internasional.

Baru-baru ini, lembaga pemeringkatan perguruan tinggi, Quacquarelli Symonds

mengumumkan pemeringkatan perguruan tinggi Asia yang disebut Asian University Ranking (QS AUR). Pada ‘klasemen’ terbaru ini, Unair menempati peringkat ke-171, naik 19 peringkat dari tahun sebelumnya pada posisi ke-190.

Badri mengungkapkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi Unair untuk terus meningkatkan kualitas. “Paper per faculty, staf PhD, inbound student masih belum banyak meningkat. Ini masih menjadi pekerjaan rumah institusi,” kata Badri.

Senin, 21 Oktober 2019, kala ibu kota tengah berselimut galau menebak-nebak kabinet baru Jokowi, Badri datang ke Jakarta. Di hadapan sekelompok anak muda yang menyebut diri sebagai ‘Airlangga Network’, lulusan magister dan doktoral dari National Cheng Kung University Taiwan ini mengungkapkan isi hatinya.

“Kita harus serius melakukan rekonfigurasi kebijakan jika benar-benar ingin keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah,” tegasnya.

Membandingkan dengan Tiongkok, yang begitu getol menggenjot perekonomian maupun pembangunan sumber daya manusianya, Badri menyebut fakta betapa kita sangat jauh tertinggal. Misalkan, diukur dalam publikasi tulisan ilmiah.

“Di seluruh dunia ada 250 ribu publikasi terkait artificial intelligence, dengan 95 ribu

di antaranya dari Tiongkok. Puluhan ribu di antaranya telah dipatenkan secara langsung. Kalau dibandingkan, total publikasi ilmiah Indonesia selama sepuluh tahun terakhir hanya 99 ribu penerbitan, itupun paling banyak dengan topik-topik sosial,” urai Badri.

Badri memaparkan, bak organisasi berskala super, sebuah negara setidaknya harus seizing, rekonfigurasi ekonomi. “Rekonfigurasi yang paling nyata adalah berpindah dari low value added economy ke high value added economy,” tegasnya.

 

Sumber :

http://sitialfiah.blogs.uny.ac.id/landasan-bimbingan-dan-konseling/