Siswa Terbaik Tak Berminat Menjadi Guru

Siswa Terbaik Tak Berminat Menjadi Guru
Siswa Terbaik Tak Berminat Menjadi Guru

Siswa Terbaik Tak Berminat Menjadi Guru

Siswa Terbaik Tak Berminat Menjadi Guru
Siswa Terbaik Tak Berminat Menjadi Guru

Siswa berprestasi umumnya tidak tertarik menjadi guru di Tanah Air. Hal ini wajar,

pasalnya profesi guru di Indonesia tidak menjanjikan apa-apa sehingga siswa-siswa terbaik memilih profesi lain yang lebih menjanjikan.
Hal tersebut dikatakan oleh Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, di Jakarta, Rabu (8/5).
Dia membandingkan profesi guru di Finlandia. Di negara yang disebut-sebut memiliki sistem pendidikan terbaik ini, guru adalah profesi yang menjanjikan sehingga banyak diminati oleh para siswa terbaiknya di sana.

Ubaid menambahkan, selain tidak menjamin secara ekonomi, ada beberapa hal lagi

yang membuat profesi guru di Indonesia tidak diminati. Hal-hal tersebut di antaranya beban akademik yang harus ditempuh begitu berat, penghargaan terhadap profesi guru sangat kurang, dan tidak ada kepastian perlindungan hukum.
Karena itu, Ubaid berharap, ke depannya sistem atau tata kelola terkait guru harus diperbaiki. Selain secara kesejahteraan diperhatikan, lanjutnya, kualitas guru juga mesti ditingkatkan untuk menarik minat para siswa terbaik.
“Saat ini, peran guru hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran, belum sampai pada proses mendidik yang tidak hanya mengutamakan pengetahuan, tapi juga menumbuhkan nalar kritis dan karakter yang kuat,” jelasnya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(Kemendikbud), Toto Suprayitno, mengakui bahwa siswa-siswa terbaik masih enggan memilih profesi guru.
Umumnya, siswa yang ingin menjadi guru memiliki capaian hasil Ujian Nasional (UN) lebih rendah dari siswa lain. “Siswa yang memiliki nilai UN tinggi, rata-rata ingin menjadi pengusaha,” ujarnya.
Hal tersebut berdasarkan hasil angket yang diberikan Kemendikbud usai pelaksanaan UN SMA sederajat. Dari hasil angket tersebut, sebanyak 11 persen siswa bercita-cita menjadi guru. Dari angka 11 persen itu, sebanyak 80 persennya merupakan siswa perempuan.